BAB 1 PENGANTAR
1.1
Latar Belakang
Filologi merupakan ilmu yang
mempelajari tentang naskah dan teks kuno atau dapat dikatakan peninggalan
sejarah, oleh karena itu akan muncul berbagai masalah karena penelitian
tersebut tidak dapat dilakukan apabila hanya menggunakan dasar-dasar dari ilmu
filologi. Untuk mendapatkan hasil atau informasi yang lebih akurat dari naskah
atau teks yang telah dijadikan subjek, maka ilmu filologi memerlukan ilmu-ilmu
yang lain sebagai pendukung. Filologi membutuhkan ilmu bahasa untuk mempelajari
naskah dan teks agar dapat menyampaikan isinya terhadap masyarakat.
Filologi
bukan hanya memerlukan ilmu-ilmu yang lain sebagai pendukung untuk mendapatkan
informasi yang akurat, namun filologi juga dapat berfungsi untuk membantu ilmu
lain dalam pengembangan materi yang mereka lakukan. Dapat kita contohkan ilmu sejarah membutuhkan ilmu filologi untuk
pendalaman materi yang mereka lakukan. Karena itu sebenarnya ilmu filologi
saling berhubungan dengan ilmu-ilmu lainnya.
Dari
paparan ada diatas, dapat dikatakan bahwa filologi memerlukan ilmu bantu lain
dan dapat membantu ilmu lain dalam memperoleh informasi yang ada di zaman
dahulu. Oleh karena itu kami akan membahas secara detai mengenai kedudukan
filologi diantara ilmu-ilmu yang lain.
1.2 Rumusan Masalah
1.
apa
saja dan bagaimana ilmu bantu filologi ?
2.
Bagaimana kedudukan filologi sebagai
ilmu bantu bagi ilmu-ilmu yang lain ?
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Ilmu Bantu Filologi
Sebagaimana yang terlah diterangkan oleh kelompok sebelumnya
bahwasanya filologi adalah suatu studi yang melakukan penelitian naskah atau
teks kuno. Dalam mengkaji naskah dan
teks kuno ini memiliki tujuan untuk mengenal naskah dan teks kuno tersebut
dengan sesempurna mungkin sehingga sebuah
teks dapat dipandang paling depan dengan teks aslinya. Untuk memenuhi
tujuan tersebut filologi tidak dapat hanya berdiri sendiri dalam pengkajiannya
tetapi memerlukan ilmu bantu untuk memecahkan permasalahan ilmu filologi. Dengan
demikian untuk mengkaji suatu naskah atau teks kuno dengan seakurat mungkin,
para ahli filologi memerlukan ilmu bantu, antara lain linguistik, pengetahuan
bahasa-bahasa yang tampak pengaruhnya dalam teks, paleografi, ilmu sastra, ilmu
agama, sejarah kebudayaan, antropologi, dan folklor. Sehingga dapat memberikan
keterangan tentang pengaruh-pengaruh
kebudayaan, sastra, ataupun agama yang berpengaruh dan yang terlihat dalam kandungan teks. Lebih lanjutnyadi akan dijelaskan satu demi satu ilmu bantunya.
A
Linguistik
Seperti yang telah diketahui bahwa filologi adalah displin ilmu
yang membahas tentang naskah dan teks-teks kuno untuk mengkaji naskah dan teks-teks kuno tersebut.
Oleh sebab itu filologi membutuhkan ilmu-ilmu yang membahas bahasa dan sekitarnya.
Linguistik adalah ilmu yang membahas tentang bahasa. Diperlukannya
linguistik dalam pengkajian filologi ,
karena kebanyakan bahasa naskah sudah berbeda dengan bahasa sehari-hari.
Oleh sebab itu untuk mngkajian
bahasa-bahasa naskah sehingga dapat memaknai bahasa lampau dengan berbagai
keunikannya. Ada beberapa cabang dari linguistik yang dapat membantu filologi antara lain,yaitu etimologi, sosiolinguistik, dan stilistika.
Etimologi merupakan ilmu yang mempelajari asal usul dan sejarah
kata. Seperti yang kita ketahui bahwasanya di Nusantara ini terdapat banyak
sekali bahasa daerah yang berkembang dari zaman dahulu. Dan didalamnya terdapat
naskah-naskah nusantara ini yang memiliki
kata serapan dari bahasa asing. Yang dalam perjalanan waktunya mengalami perubahan bentuk dan bahkan arti dari sebuah
kata asing tersebut. Oleh sebab itu dengan adanya kata-kata seperti itu, untuk
pemahaman teks harus menelusuri dari sejarah katanya, menemukan asal muasal
dari kata. Pengkajian dari perubahan bentuk dan makna kata ini menurut
pengetahuan tentang fonologi, morfologi, dan ssematik, yaitu ilmu-ilmu yang
mempelajari tentang bunyi bahasa, pembentuk kata, dan makna kata.
Sosiolinguistik yang sebagai cabang dari linguistik ini mempelajari
tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku
sosial. Hal ini diharapkan dapat mengetahui keadaan dari sosial budaya dari
naskah kuno.
Selanjutnya stilitika merupakan cabang linguistik yang menyelidiki
bahasa sastra ,khususnya gaya bahasa, diharapkan dapat membantu filologi dalam
mengetahui usia dari teks tersebut.
- Paleografi
Paleografi adalah ilmu yang membahas tentang macam-macam tulisan
kuno. Hal ini sangat diperlukan bagi para filolog. Keduannya memilliki hubungan
dalam pengkajian mengenai penjabaran
tulisan-tulisan kuno baik dari sebuah prastasti, batu atau pun
logam. Paleografi dapat membantu dalam
menentukan waktu dan tempat tuisan tersebut. Dari indikator-indikator yang
muncul di tulisan dapat memberikan petunjuk mengenai siapa pengarang tulisan
tersebut. Hal lainnya dari pengamatan anatomi dari tulisan, seperti ukuran,
bahan naskah, tinta, panjang dan jarak
baris dalam tulisan
.
- Ilmu Sastra
Merupakan salah satu ilmu bantu bagi filologi,
hal ini dimaklumi karena naskah-naskah Nusantara kebanyakan mengandung teks
sastra, yakni teks yang berisi cerita rekaan (fiksi). Untuk
mengetahui secara pasti makna dari sastra-sastra tersebut dibutuhkan pendekatan
yang baik, yaitu 4 pendekatan milik Abrams (1953) oleh Teeuw (1980) yang
dianggap oleh Wellek dan Waren sebagai 3 pendekatan ekstrinsik dan 1 pendikatan
intrinsik.
Pendekatan
Mimetik : Suatu pendekatan
yang lebih mengutamakan aspek-aspek referensial, acuan karya sastra, kaitannya
dengan dunia nyata.
Pendekatan
pragmatik : Pendekatan yang mengutamakan
respon atau pengaruh suatu teks terhadap pembaca atau pendengar.
Pendekatan
ekspresif : Suatu pendekatan
yang menitik beratkan penulis karya sastra sebagai penciptanya yang mengandung
banyak arti didalam karyanya terutama dalam eksperi dan emmosii pengarang.
Pendekatan
objektif :
Pendekatan yang mengkaji naskah tersebut tanpa melihat asal muasal naskah
tersebut.
D.
Ilmu Agama
Dalam sejarahnya kebudayaan di Nusantara ini
banyak dipengaruhi oleh tiga agama yaitu Hindu, Budha, dan Islam. Sehingga
dalam peninggalan naskah dan teks-teks kuno akan berisikan ajaran dari agama
tersebut. oleh sebab itu dalam masalah ilmu bantu ini diharapkan filolog dapat
mengkoneksikan hubungan anatara pengaruh agama dengan naskah atau teks kuno tersebut.
Seperti Dalam naskah-naskah Jawa Kuno, misalnya, tampak adanya pengaruh agama Hindu
dan Budha, bahkan ada yang memang berisi ajaran agama,seperti
Brahmandapurana dan Agastyaparwa untuk Agama Hindu Sang Hyang
Kamahayanikan dan Kunjarakarna
untuk agama Budha.
Porbatjaraka (dalam Baroroh dkk, 1985: 16)
Dalam naskah-naskah Melayu, terutama pengaruh Islam lah yang tampak
mewarnainya. Hasil karya penulis-penulis tokoh mistik seperti Hamzah Fansuri,
Syamsuddin Samatrani, Nuruddin Arraniri, Abdurrauf Singkeli hampir dapat
dikatakan bahwa semuanya berisi masalah mengenai agama Islam. Dari
sejumlah lima ribu naskah Melayu yang telah berhasil dicatat oleh Ismail
Hussein (Baroroh dkk, 1985: 16).
Pengaruh tentang agama Hindu, Budha, dan Islam sangat diperlukan bagai
penanganan sebagian besar naskah-naskah Nusantara terutama yang berisi
keagamaan (Sastra Kitab).
- Sejarah Kebudayaan
Khasanah sastra musantara disamping diwarnai oleh pengaruh dari
hindu, budha dan islam, juga memperlihatkan adanya pengaruh dari sastra klasik
india, arab dan persia. Pengaruhnya ini dapat kita lihat dari karya-karya
klasik yang ada, pengaruh dari india seperti Ramayana dan Mahabrata, dalam
sastra lama dapat dilihat dari misalnya dalam sastra jawa kuno : ramayana dan
mahabrata , yang kemudian sebagian disadur kedalam jawa kuno, jawa tengahan,
dan jawa baru. Dalam sastra lama melayu
pengaruh karya-karya klasik india muncul dari sastra jawa, misalnya hikayat
seri rama, hikayat sang boma, hikayat pandawa lima. Dalam khasanah sastra klasik dunia islam, persi,
dan arab. Hasil sastra yang berupa sastra kitab dari dunia islam dapat kita
lihat dari karya penulis sastra kitab Nusantara(misalnya Nurruddin Arraniri)
sebagai buku sumber atau rujukan, meskipun ada juga yang dikenak secara utuh
atau berupa buku terjemahan, misalnya Ihya‟ulumid-din karya ImamAlghazali,
tafsir Baidhawi terjemahan Abdurrauf Singkeil.
Oleh sebeb itu dalam
peninggalan naskah dan teks kuno yang mengandung kebudayaan Nusantara lama ini
, untuk mengkaji naskah dan teks tersebut hal yang terpenting bagi filolog
adalah menguasai sejarah yang terkait didalam teksnya. Sehingga dapat diambil
suri tauladan dari naskah atau teks kuno tersebut, yang nantinya dapat menjadi
bahan pembelajaran bagi ilmu sejarah kebudayaan dan apabila ada kebudayaan yang
telah punah ataupun hilang karena tidak adanya penerus yang melasanakan. Maka ,
filologi ini dapat membantu dalam mengungkapkan khazanah kuno yang massih
mengendap didalam naskah.
F.
Antropologi
(Partanto, 2001:44) :Berpendapat bahwa
antropologi ialah penyelidikan terhadap manusia dan kehidupannya. Sehingga
dapat diketahui bahwasanya suatu naskah tidak akan terlepas dari konteks
masyarakat dan budaya yang telah melahirkannya. Dari hal ini para ahli filolog
dapat memanfaatkan hasil kajian dan metode antropologi sebagai suatu objek yang
sama, yaitu manusia dari segi fisik,masyarakat, dan kebudayaannya. Jika dikaitkan dengan filologi maka dapat dilihat
dari filologi yang mengkaji salah satu hasil kebudayaan yaitu naskah. Dalam hal
ini, antropologi lebih menekankan penelitiannya bagaimana manusia meyikapi
naskah dan teks kuno hingga sekarang. Apakah naskah dan teks tersebut dipandang
sebagai benda keramat atau sebagai benda biasa saja.
G.
Folklor
Folklor
masih merupakan ilmu yang relatif baru karena semua dipandang sebagai bagian
antropologi. (Abrams, 1981:66). Unsur-unsur budaya yang dirangkumnya secara garis
besardapat digolongkan menjadi dua, yaitu golongan unsur budaya yang materinya
bersifat lisan dan golongan unsur budaya
yang berupa upacara-upacara. Termasuk dalam golongan pertama antara lain
Mitologi, legenda, cerita asal-usul, cerita pelipur lara, dongeng, tahayul,
teka-teki, dan cerita tradisional. Termasuk golongan ke dua , antara lain ,
upacara-upacara yang mengiringi kelahiran, perkawinan, dan kematian. Dengan demikian Folklor erat kaitannya
dengan filologi karena banyak teks lama yang mencerminkan unsur - unsur folklore, misalnya teks - teks
yang termasuk
jenis sastra dan babad . Unsur-unsur folklor
yang tampak jelas dalam teks jenis ini antara lain Mite, Legende, dan
cerita asal-usul. Dalam Babad Tanah Jawi, misalnya,terdapat mitologi Hindu dan
Legende Watu Gunung ( dalam episode yang menceritakansilsilah Raja Jawa), dan
Mite Nyai Roro Kidul, Raja jin yang menguasai “laut Selatan” (laut Indonesia),
kekasih Panembahan Senopati. Dari
beberapa contoh diatas jelaslah bahwa untuk menangani teks-teks atau
naskah-naskah semacam itu diperlukan latar belakang pengetahuan folklor,
khusunya cerita rakyat.
2.2 Filologi sebagai Ilmu Bantu
1.
Filologi sebagai ilmu bantu linguistik dalam penelitian-penelitian linguistik,
terutama yang berhubungan dengan
linguistik diakronik. Pada umumnya ahli linguistik mempercayakan pembacaan
teks-teks lama kepada para ahli filologi atau ahli epigrafi.hasil kajian
linguistik ini kelak juga dimanfaatkan oleh para penggarap naskah lama.
2. Filologi dapat menjadi ilmu bantu bagi ilmu
sastra, karena banyak naskah lama yang membahas/mengkaji tentang sastra,
terutama berupa penyediaan suntingan naskah lama dan hasil pembahasan teks yang
mungkin dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan sejarah sastra ataupun
teori sastra.
3.
Filologi sebagai ilmu bantu sejarah kebudayaan, lewat pembacaan naskah-naskah
lama, banyak dijumpai penyebutan atau pemberitahuan adanya unsur-unsur budaya
yang sekarang telah punah, misalnya istilah-istilah untuk unsur-unsur budaya
bidang musik, takaran, timbangan, ukuran, mata uang, dan sebagainya. Hal-hal
yang telah disebutkan merupakan bahan yang sangat berguna untuk penyusunan
sejarah kebudayaan.
4.
Filologi sebagai ilmu bantu sejarah, melalui proses pengkajian filologis, dapat
dimanfaatkan sebagai sumber sejarah setelah diuji berdasarkan sumber-sumber
lain (sumber asing, prasasti, dan sebagainya) atau setelah diketahui
sifat-sifatnya. Ilmu sejarah dapat juga memanfaatkan suntingan teks jenis lain,
bukan jenis sastra sejarah, khususnya teks-teks lama yang dapat memberikan
informasi lukisan kehidupan masyarakat yang jarang ditemukan dalam
sumber-sumber sejarah di luar sastra.
5.
Filologi sebagai ilmu bantu hukum adat, manfaat filologi bagi ilmu hokum adat,
seperti bagi ilmu-ilmu yang lain, ialah terutama dalam penyediaan teks.
Penulisannya baru dilakukan kemudian setelah dirasakan perlunya kepastian
peraturah hukum oleh raja/setelah ada pengaruh dunia barat.
6.
Filologi sebagai ilmu bantu sejarah perkembangan agama, bahwa naskah-naskah
Nusantara banyak yang mengandung teks keagamaan telah beberapa kali di
kemukakan dalam pembicaraan yang lalu. Juga telah dikemukakan bahwa
naskah-naskah Jawa Kuna banyak diwarnai agama Hindu dan Buddha, sedangkan
naskah-naskah Melayu banyak di pengaruhi agama Islam. Dengan demikian
penanganan naskah sastra kitab secara filologis akan sangat bermanfaat bagi
ilmu sejarah perkembangan agama.
7.
Filologi sebagai ilmu bantu filsafat, banyak definisi filsafat tetapi
intisarinya dalah cara berfikir menurut logika dengan bebas, sedalam-dalamnya
hingga sampai kedasar persoalan. Pada hakikatnya semua karya sastra mengandung
pandangan hidup tertentu yang disajikan secara jelas atau sedikit samar-samar
karena pengungkapan batin selalu di dasari pemikiran filsafati. Beberapa lapis
karya sastra, antara lain terdapat lapis yang disebutnya ‘sifat-sifat
metafisika’, yaitu suatu lapis yang memungkinkan perenungan makna filsafati suatu
karya sastra.
Subagio
Sastrowardoyo (1983) telah mencoba mengangkat pemikiran filsafati dalam sastra
hikayat sebagai berikut. Teks-teks sastra hikayat banyak mengandung nasehat dan
pepatah-petitih yang menandakan bahwa sastra merupakan penjaga keselamatan
moralitas yang di junjung oleh masyarakat pada umumnya.
Menurut
Al-Attas (1972:67) naskah-naskah yang berisi tasawuf mengandung filsafat yang
meliputi aspek-aspek ontologi, kosmologi, dan psikologi.
Dengan demikian, sumbangan filologi
kepada filsafat terutama berupa suntingan naskah disertai transliterasi dan
terjemahan ke dalam bahasa nasional, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh
para ahli filsafat.
BAB 3 PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Filologi adalah ilmu yang bersangkutan dengan naskah dan teks-teks kuno.
Dalam pengkajiannya filolog harus menguasai ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan
teks yang diteliti dan untuk memberikan hasil kebenaran yang mendekati aslinya
terdapat ilmu bantu dalam filologi antaranya ialah ilmu
linguistik, paleografi, ilmu sastra, ilmu agama, sejarah kebudayaan,
antropologi, dan folklor.
Selain itu filologi juga memiliki
kedudukan sabagai ilmu bantu bagi ilmu-ilmu yang lain. Dalam kepentingan
kajiannya masing-masing. Seperti misalnya Filologi sebagai ilmu bantu linguistik, ilmu sastra, hukum adat, dan ilmu filsafat.
DAFTAR PUSTAKA
Andi S. 2012. “ Kedudukan Filologi Diantara Ilmu”, dalam https://www.scribd.com/doc/110944337/Kedudukan-Filologi-Diantara-Ilmu ; 24 Oktrober 2012.
Ramadan, Ikhsan. 2014. “Kedudukan Filologi Diantara Ilmu-ilmu
Lain”, dalam https://www.scribd.com/doc/208686157/Kedudukan-Filologi-Diantara-Ilmu-ilmu-Lain ; 23 Feberuari 2014.
Islamiyah, Inka. 2014. “Kegunaan Ilmu-ilmu Lain bagi Filologi”,
dalam http://inka-islamiyah-fib13.web.unair.ac.id/artikel_detail-109381-Filologi-Ilmu%20bantu%20filologi.html ; 08 September 2014.
Baried, Siti
Baroroh. 1994.Pengantar Teori Filologi.Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi
Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada.
Elis Suryani SN.2012. Filologi. Ghalia Indonesia: Jakarta.
tULISAN SEPERTI INI MENJADI BAGIAN TIDAK TERPISAHKAN DARI SUMBANGAN PEMIKIRAN YANG SANGAT BERMANFAAT BAGI PEMERHATI ILMU FILOLOGI, SEHINGGA MENAMBAH KHZANAH ILMU PENGETAHUAN UNTUK MEMPERKUAT SEMANGAT MENCARI DAN MENEMUKAN SUBSTANSI DAN BAHASANYANG TERKAIT DENGAN fILOLOGI SECARA KESELURUHan, trims, abubakar hm
BalasHapusMATERI FILOLOGI SEPERTI INI MENJADI PENTING UNTUK DIKEMBANGKAN , SEHINGGA PEMERHATI FILOLOGI DAPAT MEMAHAMI SUBSTANSI YG TERKAIT DENGAN ILMU FILOLOGI SECARA LEBIH LUAS, AKAN SANGAT BERMANFAAT UTK PENEGMBANGAN WAWASAN DAN KHAZANAH ILMU PENGETAHUAN.