Kamis, 26 Mei 2016

MAKALAH KEDUDUKAN FILOLOGI DI ANTARA ILMU-ILMU YANG LAIN

BAB 1 PENGANTAR
1.1              Latar Belakang

Filologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang naskah dan teks kuno atau dapat dikatakan peninggalan sejarah, oleh karena itu akan muncul berbagai masalah karena penelitian tersebut tidak dapat dilakukan apabila hanya menggunakan dasar-dasar dari ilmu filologi. Untuk mendapatkan hasil atau informasi yang lebih akurat dari naskah atau teks yang telah dijadikan subjek, maka ilmu filologi memerlukan ilmu-ilmu yang lain sebagai pendukung. Filologi membutuhkan ilmu bahasa untuk mempelajari naskah dan teks agar dapat menyampaikan isinya terhadap masyarakat.
Filologi bukan hanya memerlukan ilmu-ilmu yang lain sebagai pendukung untuk mendapatkan informasi yang akurat, namun filologi juga dapat berfungsi untuk membantu ilmu lain dalam pengembangan materi yang mereka lakukan. Dapat kita contohkan  ilmu sejarah membutuhkan ilmu filologi untuk pendalaman materi yang mereka lakukan. Karena itu sebenarnya ilmu filologi saling berhubungan dengan ilmu-ilmu lainnya.
Dari paparan ada diatas, dapat dikatakan bahwa filologi memerlukan ilmu bantu lain dan dapat membantu ilmu lain dalam memperoleh informasi yang ada di zaman dahulu. Oleh karena itu kami akan membahas secara detai mengenai kedudukan filologi diantara ilmu-ilmu yang lain.


1.2 Rumusan Masalah
1.                  apa saja dan bagaimana ilmu bantu filologi ?
2.                  Bagaimana kedudukan filologi sebagai ilmu bantu bagi ilmu-ilmu yang lain ?


BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Ilmu Bantu Filologi 

Sebagaimana yang terlah diterangkan oleh kelompok sebelumnya bahwasanya filologi adalah suatu studi yang melakukan penelitian naskah atau teks kuno. Dalam  mengkaji naskah dan teks kuno ini memiliki tujuan untuk mengenal naskah dan teks kuno tersebut dengan sesempurna mungkin sehingga sebuah  teks dapat dipandang paling depan dengan teks aslinya. Untuk memenuhi tujuan tersebut filologi tidak dapat hanya berdiri sendiri dalam pengkajiannya tetapi memerlukan ilmu bantu untuk memecahkan permasalahan ilmu filologi. Dengan demikian untuk mengkaji suatu naskah atau teks kuno dengan seakurat mungkin, para ahli filologi memerlukan ilmu bantu, antara lain linguistik, pengetahuan bahasa-bahasa yang tampak pengaruhnya dalam teks, paleografi, ilmu sastra, ilmu agama, sejarah kebudayaan, antropologi, dan folklor. Sehingga dapat memberikan  keterangan tentang pengaruh-pengaruh kebudayaan, sastra, ataupun  agama yang berpengaruh dan yang terlihat dalam kandungan teks. Lebih lanjutnyadi akan dijelaskan satu demi satu ilmu bantunya.

       A      Linguistik

Seperti yang telah diketahui bahwa filologi adalah displin ilmu yang membahas tentang naskah dan teks-teks kuno untuk  mengkaji naskah dan teks-teks kuno tersebut. Oleh sebab itu filologi membutuhkan ilmu-ilmu yang membahas bahasa dan sekitarnya.
Linguistik adalah ilmu yang membahas tentang bahasa. Diperlukannya linguistik dalam pengkajian  filologi , karena kebanyakan bahasa naskah sudah berbeda dengan bahasa sehari-hari. Oleh  sebab itu untuk mngkajian bahasa-bahasa naskah sehingga dapat memaknai bahasa lampau dengan berbagai keunikannya. Ada beberapa cabang dari linguistik yang dapat membantu filologi antara lain,yaitu etimologi, sosiolinguistik, dan stilistika.
Etimologi merupakan ilmu yang mempelajari asal usul dan sejarah kata. Seperti yang kita ketahui bahwasanya di Nusantara ini terdapat banyak sekali bahasa daerah yang berkembang dari zaman dahulu. Dan didalamnya terdapat naskah-naskah nusantara ini yang memiliki  kata serapan dari bahasa asing. Yang dalam perjalanan waktunya mengalami  perubahan bentuk dan bahkan arti dari sebuah kata asing tersebut. Oleh sebab itu dengan adanya kata-kata seperti itu, untuk pemahaman teks harus menelusuri dari sejarah katanya, menemukan asal muasal dari kata. Pengkajian dari perubahan bentuk dan makna kata ini menurut pengetahuan tentang fonologi, morfologi, dan ssematik, yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa, pembentuk kata, dan makna kata.
Sosiolinguistik yang sebagai cabang dari linguistik ini mempelajari tentang hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Hal ini diharapkan dapat mengetahui keadaan dari sosial budaya dari naskah kuno.
Selanjutnya stilitika merupakan cabang linguistik yang menyelidiki bahasa sastra ,khususnya gaya bahasa, diharapkan dapat membantu filologi dalam mengetahui usia dari teks tersebut. 

  1. Paleografi
Paleografi adalah ilmu yang membahas tentang macam-macam tulisan kuno. Hal ini sangat diperlukan bagi para filolog. Keduannya memilliki hubungan dalam pengkajian mengenai penjabaran  tulisan-tulisan kuno baik dari sebuah prastasti, batu atau pun logam.  Paleografi dapat membantu dalam menentukan waktu dan tempat tuisan tersebut. Dari indikator-indikator yang muncul di tulisan dapat memberikan petunjuk mengenai siapa pengarang tulisan tersebut. Hal lainnya dari pengamatan anatomi dari tulisan, seperti ukuran, bahan naskah, tinta, panjang dan  jarak baris  dalam tulisan
.
  1. Ilmu Sastra
Merupakan salah satu ilmu bantu bagi filologi, hal ini dimaklumi karena naskah-naskah Nusantara kebanyakan mengandung teks sastra, yakni teks yang berisi cerita rekaan (fiksi). Untuk mengetahui secara pasti makna dari sastra-sastra tersebut dibutuhkan pendekatan yang baik, yaitu 4 pendekatan milik Abrams (1953) oleh Teeuw (1980) yang dianggap oleh Wellek dan Waren sebagai 3 pendekatan ekstrinsik dan 1 pendikatan intrinsik.
Pendekatan Mimetik         : Suatu pendekatan yang lebih mengutamakan aspek-aspek referensial, acuan karya sastra, kaitannya dengan dunia nyata.
Pendekatan pragmatik      : Pendekatan yang mengutamakan respon atau pengaruh suatu teks terhadap pembaca  atau pendengar.
Pendekatan ekspresif        : Suatu pendekatan yang menitik beratkan penulis karya sastra sebagai penciptanya yang mengandung banyak arti didalam karyanya terutama dalam eksperi dan emmosii pengarang.
Pendekatan objektif          : Pendekatan yang mengkaji naskah tersebut tanpa melihat asal muasal naskah tersebut.

D.    Ilmu Agama

Dalam sejarahnya kebudayaan di Nusantara ini banyak dipengaruhi oleh tiga agama yaitu Hindu, Budha, dan Islam. Sehingga dalam peninggalan naskah dan teks-teks kuno akan berisikan ajaran dari agama tersebut. oleh sebab itu dalam masalah ilmu bantu ini diharapkan filolog dapat mengkoneksikan hubungan anatara pengaruh agama dengan naskah atau teks kuno tersebut.
Seperti  Dalam naskah-naskah Jawa Kuno, misalnya, tampak adanya pengaruh agama Hindu dan Budha, bahkan ada yang memang berisi ajaran agama,seperti  Brahmandapurana  dan Agastyaparwa untuk Agama Hindu Sang Hyang Kamahayanikan dan  Kunjarakarna  untuk agama Budha. Porbatjaraka (dalam Baroroh dkk, 1985: 16)
Dalam naskah-naskah Melayu, terutama pengaruh Islam lah yang tampak mewarnainya. Hasil karya penulis-penulis tokoh mistik seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Samatrani, Nuruddin Arraniri, Abdurrauf Singkeli hampir dapat dikatakan  bahwa semuanya berisi masalah mengenai agama Islam. Dari sejumlah lima ribu naskah Melayu yang telah berhasil dicatat oleh Ismail Hussein (Baroroh dkk, 1985: 16).
Pengaruh tentang agama Hindu, Budha, dan Islam sangat diperlukan bagai penanganan sebagian besar naskah-naskah Nusantara terutama yang berisi keagamaan (Sastra Kitab).

  1. Sejarah Kebudayaan
Khasanah sastra musantara disamping diwarnai oleh pengaruh dari hindu, budha dan islam, juga memperlihatkan adanya pengaruh dari sastra klasik india, arab dan persia. Pengaruhnya ini dapat kita lihat dari karya-karya klasik yang ada, pengaruh dari india seperti Ramayana dan Mahabrata, dalam sastra lama dapat dilihat dari misalnya dalam sastra jawa kuno : ramayana dan mahabrata , yang kemudian sebagian disadur kedalam jawa kuno, jawa tengahan, dan jawa baru. Dalam sastra lama  melayu pengaruh karya-karya klasik india muncul dari sastra jawa, misalnya hikayat seri rama, hikayat sang boma, hikayat pandawa lima.  Dalam  khasanah sastra klasik dunia islam, persi, dan arab. Hasil sastra yang berupa sastra kitab dari dunia islam dapat kita lihat dari karya penulis sastra kitab Nusantara(misalnya Nurruddin Arraniri) sebagai buku sumber atau rujukan, meskipun ada juga yang dikenak secara utuh atau berupa buku terjemahan, misalnya Ihya‟ulumid-din karya ImamAlghazali, tafsir Baidhawi terjemahan Abdurrauf Singkeil.
Oleh sebeb itu dalam peninggalan naskah dan teks kuno yang mengandung kebudayaan Nusantara lama ini , untuk mengkaji naskah dan teks tersebut hal yang terpenting bagi filolog adalah menguasai sejarah yang terkait didalam teksnya. Sehingga dapat diambil suri tauladan dari naskah atau teks kuno tersebut, yang nantinya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi ilmu sejarah kebudayaan dan apabila ada kebudayaan yang telah punah ataupun hilang karena tidak adanya penerus yang melasanakan. Maka , filologi ini dapat membantu dalam mengungkapkan khazanah kuno yang massih mengendap didalam naskah.


F.     Antropologi

(Partanto, 2001:44) :Berpendapat bahwa antropologi ialah penyelidikan terhadap manusia dan kehidupannya. Sehingga dapat diketahui bahwasanya suatu naskah tidak akan terlepas dari konteks masyarakat dan budaya yang telah melahirkannya. Dari hal ini para ahli filolog dapat memanfaatkan hasil kajian dan metode antropologi sebagai suatu objek yang sama, yaitu manusia dari segi fisik,masyarakat, dan kebudayaannya. Jika  dikaitkan dengan filologi maka dapat dilihat dari filologi yang mengkaji salah satu hasil kebudayaan yaitu naskah. Dalam hal ini, antropologi lebih menekankan penelitiannya bagaimana manusia meyikapi naskah dan teks kuno hingga sekarang. Apakah naskah dan teks tersebut dipandang sebagai benda keramat atau sebagai benda biasa saja.

G.    Folklor

Folklor masih merupakan ilmu yang relatif baru karena semua dipandang sebagai bagian antropologi. (Abrams, 1981:66). Unsur-unsur budaya yang dirangkumnya secara garis besardapat digolongkan menjadi dua, yaitu golongan unsur budaya yang materinya bersifat lisan dan golongan unsur budaya yang berupa upacara-upacara. Termasuk dalam golongan pertama antara lain Mitologi, legenda, cerita asal-usul, cerita pelipur lara, dongeng, tahayul, teka-teki, dan cerita tradisional. Termasuk golongan ke dua , antara lain , upacara-upacara yang mengiringi kelahiran,  perkawinan, dan kematian. Dengan demikian  Folklor  erat  kaitannya  dengan  filologi  karena banyak teks lama yang mencerminkan unsur -  unsur  folklore,  misalnya teks - teks yang  termasuk  jenis  sastra  dan  babad . Unsur-unsur folklor yang tampak jelas dalam teks jenis ini antara lain Mite, Legende, dan cerita asal-usul. Dalam Babad Tanah Jawi, misalnya,terdapat mitologi Hindu dan Legende Watu Gunung ( dalam episode yang menceritakansilsilah Raja Jawa), dan Mite Nyai Roro Kidul, Raja jin yang menguasai “laut Selatan” (laut Indonesia), kekasih Panembahan Senopati. Dari beberapa contoh diatas jelaslah bahwa untuk menangani teks-teks atau naskah-naskah semacam itu diperlukan latar belakang pengetahuan folklor, khusunya cerita rakyat.

2.2  Filologi sebagai Ilmu Bantu

1. Filologi sebagai ilmu bantu linguistik dalam penelitian-penelitian linguistik, terutama   yang berhubungan dengan linguistik diakronik. Pada umumnya ahli linguistik mempercayakan pembacaan teks-teks lama kepada para ahli filologi atau ahli epigrafi.hasil kajian linguistik ini kelak juga dimanfaatkan oleh para penggarap naskah lama.
2.  Filologi dapat menjadi ilmu bantu bagi ilmu sastra, karena banyak naskah lama yang membahas/mengkaji tentang sastra, terutama berupa penyediaan suntingan naskah lama dan hasil pembahasan teks yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra.
3. Filologi sebagai ilmu bantu sejarah kebudayaan, lewat pembacaan naskah-naskah lama, banyak dijumpai penyebutan atau pemberitahuan adanya unsur-unsur budaya yang sekarang telah punah, misalnya istilah-istilah untuk unsur-unsur budaya bidang musik, takaran, timbangan, ukuran, mata uang, dan sebagainya. Hal-hal yang telah disebutkan merupakan bahan yang sangat berguna untuk penyusunan sejarah kebudayaan.
4. Filologi sebagai ilmu bantu sejarah, melalui proses pengkajian filologis, dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah setelah diuji berdasarkan sumber-sumber lain (sumber asing, prasasti, dan sebagainya) atau setelah diketahui sifat-sifatnya. Ilmu sejarah dapat juga memanfaatkan suntingan teks jenis lain, bukan jenis sastra sejarah, khususnya teks-teks lama yang dapat memberikan informasi lukisan kehidupan masyarakat yang jarang ditemukan dalam sumber-sumber sejarah di luar sastra.
5. Filologi sebagai ilmu bantu hukum adat, manfaat filologi bagi ilmu hokum adat, seperti bagi ilmu-ilmu yang lain, ialah terutama dalam penyediaan teks. Penulisannya baru dilakukan kemudian setelah dirasakan perlunya kepastian peraturah hukum oleh raja/setelah ada pengaruh dunia barat.
6. Filologi sebagai ilmu bantu sejarah perkembangan agama, bahwa naskah-naskah Nusantara banyak yang mengandung teks keagamaan telah beberapa kali di kemukakan dalam pembicaraan yang lalu. Juga telah dikemukakan bahwa naskah-naskah Jawa Kuna banyak diwarnai agama Hindu dan Buddha, sedangkan naskah-naskah Melayu banyak di pengaruhi agama Islam. Dengan demikian penanganan naskah sastra kitab secara filologis akan sangat bermanfaat bagi ilmu sejarah perkembangan agama.
7. Filologi sebagai ilmu bantu filsafat, banyak definisi filsafat tetapi intisarinya dalah cara berfikir menurut logika dengan bebas, sedalam-dalamnya hingga sampai kedasar persoalan. Pada hakikatnya semua karya sastra mengandung pandangan hidup tertentu yang disajikan secara jelas atau sedikit samar-samar karena pengungkapan batin selalu di dasari pemikiran filsafati. Beberapa lapis karya sastra, antara lain terdapat lapis yang disebutnya ‘sifat-sifat metafisika’, yaitu suatu lapis yang memungkinkan perenungan makna filsafati suatu karya sastra.
Subagio Sastrowardoyo (1983) telah mencoba mengangkat pemikiran filsafati dalam sastra hikayat sebagai berikut. Teks-teks sastra hikayat banyak mengandung nasehat dan pepatah-petitih yang menandakan bahwa sastra merupakan penjaga keselamatan moralitas yang di junjung oleh masyarakat pada umumnya.
Menurut Al-Attas (1972:67) naskah-naskah yang berisi tasawuf mengandung filsafat yang meliputi aspek-aspek ontologi, kosmologi, dan psikologi.
Dengan demikian, sumbangan filologi kepada filsafat terutama berupa suntingan naskah disertai transliterasi dan terjemahan ke dalam bahasa nasional, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh para ahli filsafat.






BAB 3 PENUTUP

      2.1  Kesimpulan

Filologi adalah ilmu yang bersangkutan dengan naskah dan teks-teks kuno. Dalam pengkajiannya filolog harus menguasai ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan teks yang diteliti dan untuk memberikan hasil kebenaran yang mendekati aslinya terdapat ilmu bantu dalam filologi antaranya ialah ilmu linguistik, paleografi, ilmu sastra, ilmu agama, sejarah kebudayaan, antropologi, dan folklor.
 Selain itu filologi juga memiliki kedudukan sabagai ilmu bantu bagi ilmu-ilmu yang lain. Dalam kepentingan kajiannya masing-masing. Seperti misalnya Filologi sebagai ilmu bantu linguistik, ilmu sastra, hukum adat, dan ilmu filsafat.


DAFTAR PUSTAKA
Andi S. 2012. “ Kedudukan Filologi Diantara Ilmu”, dalam https://www.scribd.com/doc/110944337/Kedudukan-Filologi-Diantara-Ilmu ; 24 Oktrober 2012.
Ramadan, Ikhsan. 2014. “Kedudukan Filologi Diantara Ilmu-ilmu Lain”, dalam https://www.scribd.com/doc/208686157/Kedudukan-Filologi-Diantara-Ilmu-ilmu-Lain ; 23 Feberuari 2014.
Islamiyah, Inka. 2014. “Kegunaan Ilmu-ilmu Lain bagi Filologi”, dalam http://inka-islamiyah-fib13.web.unair.ac.id/artikel_detail-109381-Filologi-Ilmu%20bantu%20filologi.html ; 08 September 2014.
Baried, Siti Baroroh. 1994.Pengantar Teori Filologi.Yogyakarta: BPPF Seksi Filologi Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada.
Elis Suryani SN.2012. Filologi. Ghalia Indonesia: Jakarta.